FILSAFAT ILMU
A.Pendahuluan
Adi pergi ke jakarta untuk mengunjungi rumah kakeknya yang terletak di keboyoran baru.namun ,karena tidak mengetahui letaknya maka diapun bertanya kepada seorang yang sedang nongkrong di tikungan “eh tahukah anda jalan ke kebayoran baru?...”kalau yang di tanya adalah seorang yang ramah dan terdidik untuk bersimpati dengan orang yang sedang kesusahan serta suka menolong alakadarnya, maka barangkali ia akan berkata”mungkin arahnya kesana”dan di tunjukanalah jalan yang salah .sebab ,sebenarnya dia juga tidak tahu dan hanya di dorong oleh aspek kulturalnya saja,maka ia menjawab begitu.jawaban seperti itu tentu saja tidak menolong kita dari kesesatan.tetapi kita masih tenang-tenang saja ,toh kita masih d Jakarta.namun bagaimana jadinya kalau kita ingin ke syurga tetapi malah di tunjukan jalan ke Neraka?; maka dengan belajar membentuk kerangka berfikir kita bisa membedakan antara kesalahan dan kebenaran itu sendiri.
B.Pengertian
Filsafat ilmu adalah suatu bidang kajian filsafat yang akhir –akhir ini banyak di minati. Banyak kalangan yang menganggapnya sebagai bagian dari epistemologi, tetapi tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai epistemologi itu sendiri namun dengan maknanya yang baru. Secara umum, filsafat ilmu dapat di pahami dari dua sisi, yaitu sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis ilmu pengetahuan[1].
Sementara itu A. Cornelis benjamin mendefinisikan filsafat ilmu sebagai disiplin filsafat yang merupakan studi kritis dan sisitematis mengenai dasar –dasar ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan metode –metode, konsep –konsep, praduga –praduganya, serta posisinya dalam kerangka umum cabang –cabang intelektual.
Berdasarkan pengertian di atas, untuk sementara, dapatlah di pahami bahwa filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif, rasikal dan mendasar atas berbagai persoalan mengenai ilmu pengetahuan, landasan dan hubungannya dengan segala segi kehidupan manusia[2].
Dalam kehidupan ini tentumya kita telah menganal dan terbiasa untuk memanfaatkan benda –benda di sekeliling kita.mulai dari alat elektronik ( hand phone, komputer, televisi) ,perabot rumah tangga, sampai dengan alat tulis yang kita gunakan. Kita juga dapat mengenal berbagai jenis dan nama tumbuhan, nama binatang, bahkan kita juga dapat membedakan sifat, karakter, pola pikir, dan tingkah laku seorang teman. Pernahkah kita berfikir bagaimana tiba –tiba memberi sebutan sesuatu dengan istilah –istilah tertentu? ; bagaimana sebenarnya proses perkenalan kita dengan benda yang kita beri sebutan tertentu itu?
Di dalam bidang keilmuan kita juga mengenal berbagai banyak cabang ilmu pengetahuan, baik ilmu agama, sosial, eksak, sampai dengan ilmu filsafat itu sendiri.bahkan sampai sekarang masih banyak llmu pengetahuan yang baru muncul dan berkembang.temuan –temuan di bidang ilmu pengetahuan inilah yang mendorong kita untuk memikirkan “bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan?” atau dengan kata lain :”bagaimana para filsuf itu sampai pada kesimpulannya?” inilah yang dimaksud dengan persoalan ilmu filsafat atau ilmu pembentukan kerangka berfikir.
KETERANGAN :
D. Dasar –dasar Pengetahuan
Untuk membuat pola atau kerangka berfikir maka kita harus mengetahui dasar-dasar seseorang untuk mencapai sebuah kebenaran, yang mana dengan cara tersebut kita dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Adapun dasar –dasar tersebut adalah[3] :
1.Penalaran
Manusia adalah satu –satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuannya secara sungguh –sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan itu terbatas untuk kelangsungan hidupnya. Pengetahuan manusia dapat berkembang di sebabkan dua hal utama yakni, pertama manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebebut. Sebab kedua adalah manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mentap, adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber pada rasio dan fakta.
2.Logika
Sebenarnya ada dua jenis cara penarikan kesimpulan, yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus –kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum.sedangkan logika deduktif yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi hal yang bersifat (individual) khusus.
C.Sumber pengetahuan
De omnibus dubitandum! [4]Segala sesuatu harus diragukan desak Rene Deskartes. Namun segala yang ada dalam hidup ini di mulai dengan meragukan sesuatu. Namun kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu!
Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya, mempergunankan premis –premis yang berupa pengetahuan yang di anggapnya benar.kenyataan ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan : bagaimanakah caranya kita mendapat pengetahuan yang benar? Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pertama mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman.
D.Kriteria Kebenaran
Apakah persyaratan agar suatu jalan pikiran menghasilkan kesimpulan yang benar? ; tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang di anggapnya benar, setiap individu mempunyai kriteria kebenaran sendiri –sendiri. Teori kebenaran sebenarnya terbagi menjadi dua yaitu teori koherensi suatu pernyataan di anggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan –pernyataan sebelumnya yang di anggap benar.
Paham lain adalah kebenaran yang berdasarkan teori korespondensi, di mana eksponen utamanya adalah Bertrand Russell (1872-1970). Bagi penganut korespondensi maka suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang di kandung pernyataan itu berhubungan dengan obyek yang di tuju oleh pernyataan tersebut. Maksudnya jika seseorang mengatakan bahwa “ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang menjadi Ibu Kota Republik Indonesia. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa ‘Ibu Kota Republik Indonesia adalah Bandung” maka pernyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang dengan pernyataan tersebut.
E. kesimpulan
Jadi filsafat ilmu dapat kita sebut sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis bagi ilmu pengetahuan. Maka peran filsafat ilmu dalam struktur bangunan keilmuan tidak dapat disangsikan, karena ia merupakan landasan filosofis tentang suatu ilmu.
F.Penutup
Sebenarnya untuk membahas filsafat ilmu secara terperinci tidak cukup waktu kita untuk membahasnya . karena betapa luasnya penertian dan metode –metode yang ada di dalamnya. Oleh karena banyaknya kekurangan di dalam pembahasan dan penulisan ini kami mohon maaf yang sebesar –besarnya dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.amiin.
G.Referensi
Muslih, mohammad, pengantar ilmu filsafat, (Gontor, darussalam university press, desember 2008).
Muslih, mohammad, filsafat ilmu kajian atas asumsi dasar paradigma dan kerangka teori ilmu pengetahuan, (yogyakarta :Belukar, 2004).
Suriasumantri, jujun s, fisafat ilmu sebuah pengantar populer, Jakarta, penebar swadaya jakarta, januari 1994
[1] Muslih, mohammad, pengantar ilmu filsafat, ( gontor: darussalam university press, 2008)
[2] Muslih , mohammad, filsafat ilmu, cetakan ke lima, (yigyakarta : penerbit belukar, agustus 2008)
[3] Suriasumantri, jujun s, fisafat ilmu sebuah pengantar populer, Jakarta, penebar swadaya jakarta, januari 1994, hal: 39
[4] Suriasumantri, jujun s, fisafat ilmu sebuah pengantar populer, Jakarta, penebar swadaya jakarta, januari 1994, hal: 40.

0 Komentar